Remaja buta bernama Gilang menemukan mayat kakaknya, Ratna, di pintu belakang Kediaman Wijaya. Di tengah kesedihan yang mendalam, ia bersikeras menuntut sepuluh koin uang tebusan yang seharusnya menjadi hak kakaknya. Meskipun dihina dan dianiaya oleh pelayan rumah Wijaya bernama Kimmy, ia tetap tidak mau mundur sedikit pun.
Peristiwa ini dilihat oleh tetua berjubah abu-abu yang telah ratusan tahun mencari bakat istimewa. Setelah membakar jenazah kakaknya, Gilang membawa abunya kembali ke halaman rumah yang kumuh. Ia berbohong dengan mengatakan kakaknya telah meninggal secara wajar, lalu menggunakan uang ganti rugi untuk membeli obat bagi ibunya, Wanda, yang sedang sakit parah.
Ia tampak datar dan tak berperasaan menghadapi kematian saudara terdekat, namun sesekali tersenyum saat mendapatkan makanan, hal ini membuat tetua berjubah abu-abu merasa bingung.
Di sisi lain, tetua tersebut dilacak oleh Pendeta Pelindung Negara karena dendam lama. Sementara di rumah, pamannya Bima mendobrak pintu masuk dan meminta uang. Kehidupan remaja yang sudah sulit pun terjebak dalam bahaya kembali.